
Suasana syukur menyelimuti Pondok Penghafal Qur’an (PPQ) di Desa Cimerang, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi. Di sela-sela rutinitas menghafal dan belajar Al-Qur’an, para santri dan pengurus pondok kini tengah menikmati manisnya buah kesabaran mereka: panen beberapa hasil bumi yang melimpah.
Langkah ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam biasa, melainkan sebuah ikhtiar pondok untuk membangun ketahanan pangan internal pondok demi memenuhi kebutuhan gizi para santri.
Dari Santri, Untuk Santri
Sebagai komitmen pembekalan softskill bagi para santri, berbagai komoditas pangan berhasil dipanen. Mulai dari umbi-umbian sumber karbohidrat seperti singkong dan talas, hingga aneka sayuran segar. Tak ketinggalan, buah musiman yang kini mulai jarang ditemui, yakni Limus (sejenis mangga bacang yang harum menyengat), turut menyemarakkan hasil panen kali ini.
Upaya ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren tidak hanya mencetak generasi yang saleh, tetapi juga mandiri secara sosial dan ekonomi. Meskipun hasil panen kali ini bukan sebagai kebutuhan konsumsi utama makan sehari-hari santri, namun panen kali ini sangat cukup untuk bisa diolah atau dijual kembali untuk kembali memenuhi menu pokok para santri dan guru Qur’an.
Menekan Biaya Operasional dengan Kualitas Terjamin

Pemanfaatan lahan, kerjasama dengan para praktisi dan ahli dengan masyarakat di sekitar pondok menjadi kunci keberhasilan ini. Dengan menanam sendiri kebutuhan pokok seperti singkong dan sayuran, pondok berpotensi melakukan efisiensi biaya operasional harian serta meningkatkan kemandirian ekonomi.
Selain faktor ekonomi, ada jaminan kualitas kesehatan yang didapat. Sayuran dan umbi yang dipanen diolah langsung dari kebun sendiri, meminimalisir penggunaan pengawet atau proses distribusi panjang yang kerap mengurangi kesegaran bahan makanan.
Filosofi Menanam: Sabar dan Tawakal
Bagi para santri, pertanian dikenalkan juga sebagai laboratorium kehidupan. Proses bercocok tanam serta perawatannya hingga berbuah, mengajarkan filosofi kesabaran yang selaras dengan proses menghafal Al-Qur’an. Keduanya membutuhkan ketekunan, perawatan rutin, dan keikhlasan (tawakal) dalam menanti hasil terbaik.